GRESIK, CN24 — Persoalan air bersih di Perumahan Gresik Kota Mas (GKM), Desa Dadapkuning, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, pada Rabu, 16 September 2026, kembali memantik keresahan warga. Ratusan penghuni perumahan mengeluhkan pasokan air dari PDAM yang dinilai tidak memadai, keruh, dan kerap terhenti tanpa pemberitahuan.

Keluhan tersebut bukan persoalan baru. Warga menyebut gangguan pasokan air telah berlangsung berulang kali tanpa penyelesaian yang dianggap tuntas. Di sisi lain, kewajiban pembayaran layanan air dari PDAM tetap berjalan setiap bulan.

Kondisi itu membuat sebagian warga terpaksa mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari membeli air galon hingga mendatangkan air tangki. Bagi warga, kondisi tersebut menambah beban pengeluaran rumah tangga.

«“Kami kesulitan mendapatkan air bersih. Yang kami butuhkan adalah debit air yang memadai, bukan air sisa yang sering mati dan kondisinya keruh. Kami tetap membayar setiap bulan, tetapi pelayanan yang kami terima belum sesuai harapan,” ujar salah satu perwakilan warga saat ditemui awak media.»

Warga mempertanyakan mekanisme pengelolaan dan distribusi air di lingkungan perumahan tersebut. Mereka meminta pihak yang bertanggung jawab atas layanan air memberikan penjelasan terbuka mengenai penyebab gangguan, kapasitas pasokan, serta langkah konkret untuk memastikan distribusi berjalan normal.

Bagi warga, persoalan tersebut tidak semata-mata menyangkut kenyamanan. Air merupakan kebutuhan dasar yang digunakan untuk berbagai aktivitas rumah tangga sehingga kontinuitas dan kelayakan kualitas pasokan menjadi hal yang sangat penting.

Karena itu, warga mendesak pengembang dan pihak PDAM terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan air di GKM. Mereka meminta solusi konkret, bukan sekadar penanganan sementara ketika keluhan kembali mencuat.

Warga juga mempertanyakan kewajaran pembayaran layanan apabila dalam praktiknya pasokan air tidak tersedia secara konsisten. Mereka meminta kejelasan mengenai bentuk tanggung jawab serta kebijakan terhadap pelanggan selama kualitas dan kontinuitas layanan belum kembali normal.

Kekecewaan warga kini mulai mengarah pada rencana penyampaian aspirasi melalui jalur yang lebih formal. Jika tidak ada perbaikan nyata, warga menyatakan akan membawa persoalan tersebut kepada pihak berwenang dan instansi terkait untuk mendapatkan penyelesaian.

Pertanyaan yang kini mengemuka sederhana: mengapa warga tetap dibebani pembayaran rutin ketika pasokan air yang mereka terima disebut masih keruh dan kerap terhenti?

Warga berharap persoalan air bersih di Perumahan GKM tidak lagi berhenti pada keluhan dari satu gangguan ke gangguan berikutnya. Mereka menuntut kepastian pelayanan, transparansi pengelolaan, serta solusi permanen agar kebutuhan dasar penghuni perumahan dapat terpenuhi. (Rdwn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *